Apa Itu Doa?
Doa disebutkan dalam al-Quran dengan beberapa makna;
1. Permintaan
“Berodalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. al-Mu’min : 60)
2. Permohonan
“Berdoalah kepaa Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. al-A’raf : 55)
3. Panggilan
“Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam kecuali sebentar saja.” (Q.S. al-Isra : 52)
4. Pujian
“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama ang mana saja kamu seru, dia mempunyai al-Asamul Husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Q.S. al-Isra : 110)

Perawat dan Komunikasi Transendental
Islam memiliki perbedaan yang nyata dengan agama-agama lain di muka bumi ini. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Khalik-nya dan alam syurga, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif, harmonis, jelas dan logis. Salah satu kelebihan Islam yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah perihal perspektif Islam dalam mendoakan pasien sebagai kliennya.
“Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia,” Demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Karena kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan dirinya dengan menegakkan agama Islam. Allah SWT berfirman:
”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman.” (QS:Yunus 57).
Dalam tulisannya, “Tanggung Jawab (Responsibility) dan Tanggung Gugat (Accountability) Perawat Dalam Sudut Pandang Etik” Bapak Iyus Yosef SKp., MSi., menjelaskan bahwa sudut pandang etika normatif terhadap tanggung jawab perawat yang paling utama adalah tanggung jawab di hadapan Tuhannya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Dalam sudut pandang etik pertanggungjawaban perawat terhadap Tuhannya terutama yang menyangkut hal-hal berikut ini ;
1. Apakah perawat berangkat menuju tugasnya dengan niat ikhlas karena Allah?
2. Apakah perawat mendoakan klien selama dirawat dan memohon kepada Allah untuk
kesembuhannya?
3. Apakah perawat mengajarkan kepada klien hikmah dari sakit?
4. Apakah perawat menjelaskan mafaat do’a untuk kesembuhannya?
5. Apakah perawat memfasilitasi klien untuk beribadah selama di RS?
6. Apakah perawat melakukan kolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien?
7. Apakah perawat mengantarkan klien dalam sakaratul maut menuju Khusnul khotimah?

Doa Sebagai Kekuatan Terbesar
Dadang Hawari dalam buku “Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi” menjelaskan penelitian Snyderman (1996) menyebutkan bahwa terapi medis saja tanpa disertai dengan doa dan dzikir, tidaklah lengkap. Sebaliknya doa dan dzikir saja tanpa disertai dengan terapi medis, tidaklah efektif. Sementara itu Matthew (1996) menyatakan bahwa suatu saat kita para dokter dan perawat selain menuliskan resep obat juga akan menuliskan doa dan dzikir pada kertas resep sebagai pelengkap.
Allah swt berfirman dalam Alquran Surat AI-Baqarah Ayat 155: “Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (bahan makanan). Namun gembirakanlah orang-orang yang bersabar”.
Berikut beberapa doa ketika sedang sakit, diambil dari buku “Rahasia Kesembuhan – Meretas Kesembuhan dengan Doa dan Ikhtiar” karangan dr. H. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K), MM.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafinii fi sam’I, Allaahumma ‘aafinii fii bashari. Allaahumma innii ‘auudzubika minal kufri wal faqri. Allaahumma innii ‘auudzubika min ‘azaabil qabri. Laa ilaaha illaa anta.
Artinya :
“Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah, sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, sesungguhnya aku berllindung kepadaMu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sisa kubur. Tiada Tuhan selain Engkau”
(H.R. Abu Daud dan Al Hakim)
Kemudian doa sakit badan
Bismillaah (3x)
A ‘uudzu billaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadiru. Wa a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadiru (7x)
Artinya :
“Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku rasakan dan kutakuti. Dan aku berlindung dengan kekuatan kekuasaan Allah dari kejelekan yang aku rasakan dan kuatirkan”
(H.R. Muslim dan Malik)
Untuk mengajarkan doa kepada pasien selengkapnya bisa dilihat di http://indah77.multiply.com/journal/item/27/Beberapa_doa_ketika_sedang_sakit_doa_untuk_kesehatan

Sementara perawat sendiri bisa memberikan doa;
بسم الله الرحمن الرحيم
اللّهُمّرَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ البَاءِسِ اِشْفِ أَنْـتَ الشَّافِيُّ لاشِفَـاء اٍِلاَّ شِفَأُكَ شِفَاءَ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًـا آمين َ
َ
Artinya :
Ya Alloh Tuhan yang mengurus semua manu sia Engkau yang menghilanghkan penyakit, sembuhkanlah, Engkau Maha penyembuh tak ada sembuh kecuali sembuh dari-Mu, sembuh yang tidak menimbulkan bekas-bekasnya.

Berikan Motivasi Dalam Setiap Doa
Jika kita membiasakan diri memberikan motivasi dan doa kepada pasien, maka kita berada di jalur yang tepat sebagai pengemban visi transendental. Itu karena segera ‘the prover’ dalam diri kita akan memberikan bukti-bukti yang mendukung. Gunakan afirmasi yang tepat disertai kesadaran bahwa sehat adalah hak lahir semua orang dan bahwa pasien memutuskan untuk menerimanya dan sudah berada di tempat yang tepat untuk menerimanya.
Fokuskan motivasi tersebut pada kesembuhan pasien karena pasien-dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil- mengalami rasa takut, khawatir dan cemas yang hanya akan menghambat proses komunikasi terapeutik. Yakini pasien bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Apa pun yang namanya kesedihan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan keadaan buruk yang tidak kita sukai sejenis itu hanyalah sementara. Sebagaimana kata orang bijak, “Badai Pasti Berlalu.”

Perawat Muslim Mendoakan Pasien Nonmuslim
Islam tidaklah melarang seorang muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap non muslim yang tidak memerangi kaum muslimin berdasarkan firman Allah swt :
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8 )
Imam al Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini adalah keringanan dari Allah swt di dalam berhubungan dengan orang-orang yang tidak memusuhi orang-orang beriman serta tidak memeranginya.
Dengan begitu hendaklah perawat tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan kesehatannya, merawatnya secara baik, bersikap lemah lembut terhadapnya, membantu memenuhi kebutuhannya selama dibawah perawatan, memberikannya makanan jika memang dirinya tidak memiliki atau membutuhkan makanan, menutup auratnya jika tersingkap, melunakkan suara, menunjukkan keramahan terhadapnya. Jadi tidak ada salahnya perawat mendoakan orang yang sakit, sebagaimana disebutkan didalam shahih Muslim tentang seorang sahabat yang meruqyah seorang kepala kampung—ada kemungkinan kampung kafir atau kampung orang-orang bakhil, sebagaimana disebutkan Ibnul Qoyyim didalam kitab Madarij as Salikin—yang disengat oleh ular berbisa.
Namun hendaklah berbagai perbuatan baik yang dilakukan seorang perawat muslim terhadap para pasien nonmuslim yang tidak memerangi kaum muslimin itu tetap dalam batas-batas yang wajar, sehingga tidak tampak seperti mengagungkan mereka dan merendahkan dirinya sebagai seorang muslim.
Adapun tentang mengucapkan salam kepada pasien nonmuslim maka dilarang bagi perawat mengawali salam kepadanya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Janganlah kalian mengawali salam kepada orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Muslim)
Akan tetapi jika pasien nonmuslim tersebut mengawali salam kepada kita maka cukuplah kita menjawab dengan “wa alaikum”, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Apabila seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah,’Wa Alaikum.” (Muttafaq Alaih)
Wallahu A’lam

.. Untukmu Para Perawat Muslim ..
Doa memberikan kekuatan kepada orang yang lemah. Membuat orang yang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian kepada orang yang kehilangan harapan. Maka, jangan lepas hadiah Tuhan ini, karena di dalam doa ada kekuatan yang membuat kita dapat merubah dunia yang berangsur gelap menjadi terang kembali.
Hidup Perawat Muslim Indonesia!

Referensi

    Al-Quranul Karim.
    Amiruddin, Aam. 2008. Doa Orang-Orang Sukses. Bandung: Penerbit Khazanah Intelektual.
    Hawari, Dadang. 2005. Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
    Pranowo, Sigit. 2010. Muamalah Perawat dengan Pasien Nonmuslim. EraMuslim.
    Yosep, Iyus. Ciri Perawat dengan Visi Transendental.
    Yosep, Iyus. Tanggung Jawab (Responsibility) dan Tanggung Gugat (Accountability) Perawat dalam Sudut Pandang Etik.